3 Alasan Pramoedya Ananta Toer Belum Ada Tandingannya di Antara Semua Penulis Tanah Air

Oct 12, 2017

0

3 Alasan Pramoedya Ananta Toer Belum Ada Tandingannya di Antara Semua Penulis Tanah Air

Posted in : Umum on by : Somet

“Kalau untuk saya, silakan kerjakan apa yang dimaui. Tapi, tanggungjawab pada perbuatan sendiri. cuma itu pesan saya. Bahkan jadi bandit pun silakan. Tapi tanggungjawab atas perbuatan sendiri. Jangan nyorong pada orang lain untuk tanggungjawab.” – Pramoedya Ananta Toer dalam wawancara terakhirnya di edisi perdana majalah Playboy (2006)

Karang yang mengeras terhantam ombak yaitu personanya. Tanpa ada ampun dalam berlaku, menampik kompromi, serta bernafas dengan idealisme yang tidak kunjung mengelupas. Hal paling akhir yang ikhlas dikerjakannya yaitu merangkak-rangkak dimuka siapa saja.

Lahir di Blora, 6 Februari 1925, nama sesungguhnya yaitu Pramoedya Ananta Mastoer. Tetapi, dengan watak yang ia miliki, tidak aneh sekali lagi bila Pram berniat melepaskan imbuhan ‘mas’ dari nama panjangnya karna terasa sangat feodal serta kebangsawan-bangsawanan. Sejak dari novel perdananya yang popular, Perburuan sampai Tetralogi Bumi Manusia, Anak Semuanya Bangsa, Jejak Langkah, Tempat tinggal Kaca serta rentetan karya dahsyat setelah itu, nama Pram melanglang menembus ranah sastra mancanegara. Ia banyak menulis–baik fiksi ataupun non fiksi– tentang histori serta politik, terlebih berkaitan harapan revolusi, beberapa ide progresif serta kritik sengit pada negara, pemerintah, agama, kondisi sosial, dan sebagainya. Baginya sastra bukanlah sebatas seni serta kanal artistik, tetapi senjata membuat perubahan sosial.

Naga-naganya juga memanglah tidak ada sastrawan negeri yang lebih kontroversial dari sosok Pram. Ia miliki banyak musuh. Dengan Lekra (Instansi Kebudajaan Rakjat), Pram demikian berapi bertempur atau adu buah fikir dengan sesama seniman serta sastrawan yang berseberangan dengannya di masa pemerintahan Bung Karno. Baik lewat lisan ataupun teks, ia bersitegang tidak ada capek. Serta sampai kubu serta kawan-kawannya rubuh terbantai militer serta dominasi politik, ia masih tetap berdiri kuat. Seolah ketinggalan sendirian. Dikepung oleh beberapa lawannya yang memenangi jaman, Pram tetaplah bergeming. Menampik takluk. Seakan antagonis paling akhir yang alot sekali ditumbangkan, Pram masih tetap menjalar sepanjang sebagian dekade dalam kesendiriannya, bahkan juga saat ia berkalang tanah di umur ke-81 pada 2006 yang lalu.

Atas nama besarnya di jagat kesusastraan serta intelektual, Google rayakan ulang th. Pram yang ke-92 dengan menghadirkan contoh ikoniknya dengan satu mesin tik di Google Doodle pada Senin (6/2) tempo hari. Animo bertaraf internasional ini cuma satu sisi dari penghormatan umum pada sepak terjangnya yang belum juga tertandingi oleh penulis manapun di Indonesia. Terdapat beberapa penulis atau sastrawan kita yang mampu cetak karya-karya laku serta mahsyur, tetapi berikut 5 argumen mengapa Pram masih tetap saja belum juga dapat ditumbangkan.

1. Reputasinya di kancah internasional belum juga terkalahkan. Pram yaitu sastrawan Indonesia yang nama serta karyanya beredar paling luas

Bermacam anugerah sastra telah tidak terhitung sekali lagi digondolnya dari negara yang tidak sama. Salah satunya yaitu barbara Goldsmith freedom to Write Award, PEN 91988), The Fund for Free Expression Award (New York 91989), English P. E. N Centre Award (Inggris 1992), Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative Communication Arts (1995), Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres, (Perancis 2000), 11th Fukuoka Asian Culture Prize (Jepang 2000), serta beda sebagainya. Diluar piagam-piagam ini, keterbacaan karyanya dengan global juga tidak diragukan sekali lagi mengingat beberapa besar karyanya telah ditranslate ke banyak bhs. Berarti, status Pram jadi yang paling baik dapat dilegitimasi juga oleh semua pembaca di pelosok dunia.

2. Bukan hanya bertabur penghargaan, namun juga perhatian berbentuk kajian atau amatan kritis

Tak ada habisnya peneliti, akademisi, sastrawan, atau kritikus yang menyelami karya-karya serta sosok Pram untuk hasilkan tulisan beda. Kisah-kisah karangannya memanglah berisi wacana besar yang mengundang amatan-amatan gawat. Mulai yang ditulis oleh Benedict Anderson dari Amerika Serikat sampai A. Teeuw dari Belanda. Bahkan juga bukan hanya melahirkan kajian, namun juga karya sastra yang lain. Seseorang sastrawan terpenting kelahiran Maroko, Tahar Ben Jelloun umpamanya sempat juga menulis novel penyesuaian dari karya Pram (Korupsi) yang bertopik Corruption (1994). Ini belum kalimat-kalimat warisan Pram yang masih tetap selalu berkelana dalam sebagian cuplikan bijak. Siapa belum juga sempat dengar quotes berbunyi : “Tahu kau kenapa saya cintai kau lebih dari siapa juga? Karna kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, juga akan kekal, hingga jauh, jauh di lalu hari” atau “Orang bisa pintar setinggi langit, namun sepanjang ia tidak menulis, ia juga akan hilang didalam orang-orang serta dari histori. Menulis yaitu bekerja untuk keabadian”?

3. Pramoedya Ananta Toer yaitu sastrawan yang senantiasa mengangkat Indonesia jadi satu bangsa pada karya-karyanya

Janganlah mengharapkan Pram menulis tentang humor receh, roman picisan, atau hal sepele temeh. Ia senantiasa menceritakan suatu hal yang besar serta penting. Tak tahu sebagian cerita perjuangan rakyat Indonesia di masa revolusi sampai pencarian histori kebangsaan di masa-masa sesudahnya. Pram mengabdikan goresan penanya untuk seluk beluk sosial politik Bumi Pertiwi, termasuk juga keberpihakannya pada rakyat kecil serta tertindas. Pergi dari sinilah mengapa karya-karyanya dimaksud mampu melahirkan sebagian deskripsi kebangsaan Indonesia.